Sabtu, 12 Mei 2018

YOGA AKHIRI PENDERITAAN

I.PENDAHULUAN. Ketika manusia dalam kondisi fisiknya sehat walafiat kebanyakan mereka ceroboh berbuat dan tidak begitu berpikir akan datangnya sakit atau penderitaan. Adanya berbagai makanan yang dilarang oleh dokter atau dilarang oleh ajaran agama karena dalam kondisi sehat kebanyakan manusia tidak mau hiraukan. Begitu juga dikala fisik kuat manusia akan mengambil pekerjaan diluar batas waktu sampai fisiknya tidak pernah diistirahatkan.. . Hanya ketika manusia mengalami kesakitan atau hidup dalam derita barulah sebagian besar manusia berharap terlepas dari penderitaan atau kesakitan.. Demi hidupnya segera sembuh maka manusia akan berusaha berobat kesana kemari.. Karena demi hidup sehat berapapun biaya dikeluarkan bahkan harta benda bisa habis untuk berobat demi berharap kembali sehat.. Akan tetapi mungkin ada sebagian dari orang-orang sudah kesana kemari berobat tidak juga dapat kesembuhan.. Kepada orang-orang yang tidak ada kesembuhan karena obat atau bantuan dari orang pintar, mungkin sang waktu menghendaki seseorang harus mandiri dan jangan terus ketergantungan sama obat atau orang lain.. Yoga merupakan suatu jalan terakhir yang mungkin dapat membebaskan atau memutuskan seseorang dari penderitaan... Yoga dikatakan sebagai pemutus penderitaan sebab ada sebuat ayat dalam kitab suci Bhagawadgita yang mengatakan sebagi berikut: “supaya diketahui bahwa yang dinamakan yoga, adalah putusnya hubungan dengan penderitaan; yoga ini yang harus dilaksanakan dengan keteguhan hati dan pikiran yang mantap(Bhagawadgita VI-23) Jadi menurut ayat diatas hendaknya supaya diketahui bahwa yoga itu dilakukan adalah untuk memutuskan hubungan dengan penderitaan atau untuk mengakhiri penderitaan.. Karena itu sebagian dari orang yang sudah menjalani yoga adalah orang yang dirundung penderitaan atau mengalami kesulitan dalam hidupnya. Kesulitan dalam mencari rejeki, kesulitan dalam cari pekerjaan, tidak ada kebahagiaan dalam hidup, kesulitan cari jodoh, selalu hidup kesakitan dan berbagai kesulitan atau penderitaan yang sudah tiada solusinya lagi.. Orang –orang yang demikianlah yang memutuskan diri untuk melakukan yoga.. Agar bisa menjalani atau memperaktekkan yoga mereka-mereka ini akan mencari seorang guru spiritual dan kemudian mereka ikut perguruan rohani.. Di organisasi perguruan itu mereka lalu dapat pengetahuan tentang yoga dan memperolehbuku-buku panduan tentang cara beryoga.. Bila mereka merasakan ada perubahan dimana keluh kesah, derita hidupnya merasa teringankan maka merekapun mantap dalam beryoga.. Putusnya hubungan dengan penderitaan atau berkurangnya derita hidup yang dirasakan itu membuat seseorang menjalani yoga dengan keteguhan hati seperti yang disebutkan oleh ayat diatas. Yoga itu benar benar akan menjadi penghapus duka bila disertai dengan hidup yang teratur seperti dinyatakan oleh ayat berikut: Bagi yang tidak berlebihan dalam hal makan dan rekreasi, yang wajar-wajar saja dalam kegiatan kerjanya, yang tidur dan bangunnya teratur, yoga akan menjadi penghapus dukanya(Bhagawadgita VI-17).. Jadi yoga akan sebagai penghapus duka bila manusia tidak berlebihan dalam makan atau tidak berlebihan dalam rekreasi dalam hal ini manusia harus ingat waktu untuk beryoga.. Begitu juga bagi yang bekerja dengan wajar iaitu disamping bekerja ingat waktu beryoga maka yoga akan menghapus duka manusia.. Selain itu bagi yang tidur dan bangunnya teratur iaitu bangun sesuai waktu yang ditetapkan dan tidurnya tidak sampai lewat waktu disanalah yoga dapat sebagai penghapus penderitaan atau duka manusia.. jika tidur dan bangun sudah tidah teratur atau tidak mengikuti ketetapan untuk beryoga maka yoga tidak mungkin bisa sebagai penghapus duka. Orang-orang disaat fisik sehat enak bekerja kebanyakan lupa waktu untuk beryoga apalagi beruntung dalam pekerjaan kebanyakan orang lalai akhirnya karena lalai bekerja disanalah orang terjebak oleh penderitaan berkepanjangan bila energi sucinya telah habis masa pakainya..Yoga itu bagi orang yang mau teratur atau mau diatur dan yoga bukan untuk orang yang dinyatakan oleh ayat berikut: “Sesungguhnya Yoga bukanlah bagi orang yang makan terlalu banyak atau puasa terlalu banyak, Wahai Arjuna, juga bukan untuk orang yang tidur terlalu banyak atau melek terlalu banyak(Bhagawadgita VI-16).. II. ARTI YOGA Satu hal yang sangat penting diketahui orang yang ingin melakukan yoga untuk mengakhiri penderitaan, seseorang harus tahu arti Yoga itu sendiri.. Yoga itu sebuah kata dalam bahasa sansekerta yang artinya “penyatuan”. Dari beberapa sumber yoga juga diartikan “hubungan”.. Demi terbebas dari penderitaan sekiranya arti yoga iaitu penyatuan itu yang perlu dipahami dulu sesudah itu baru menjalankan yoga. Penyatuan dalam beryoga yang perlu diketahui adalah sebuah usaha penyatuan pikiran dengan Atma atau Roh yang ada didalam hati . Bukan penyatuan pada yang lain seperti yang disebutkan oleh ayat berikut: “Dengan berpegang pada keseimbangan akal, ia harus dapat mencapai ketengan sedikit demi sedikit dengan menambatkan pikiran pada Atma, tidak memikirkan apapun yang lain(Bhagawadgita VI-25).. Jadi dalam beryoga sesui ayat diatas adalah sebuah upaya penyatuan pikiran melalui upaya menenangkan pikiran sedikit-demi sedikit melalui latihan meditasi dengan menambatkan pada Atma yang ada dihatinya.. Agar seseorang bisa menyatukan pikiran dengan Atma atau bisa menambatkan pikiran dengan atma, seseorang harus berpegang pada pertimbangan akal budinya.. Dalam hal ini perlu kecerdasan untuk menimbang-nimbang dan dengan berbekal kecerdasan untuk memahami bahwa yoga dapat menghapus dukanya itu akan dapat membuat seseorang jadi mantap melakukan yoga.. Yoga secara umum dapat diartikan pula sebagai hubungan dengan Tuhan.. Melalui pengertian ini banyak orng yang dalam deritanya sudah berhubungan atau memusatkan pikirannya dengan melantunkan doa dan lagu pujaan kepada Tuhan atau memuja dewa-dewa tetapi hasilnya ada yang kurang memuaskan.. Jika kurang memuaskan sekiranya orang-orang harus berhubungan dengan menyatukan pikirannya pada Atma yang dihatinya.. Seseorang yang tidak ada solusi lagi tuk menghapus dukanya dengan memuja Tuhan atau dewa dewi yang ada diatas sana, sekiranya seseorang dianjurkan untuk menyatukan pikiran dengan Atma yang ada dihatinya.. Ada sebuah ungkapan suci weda yang terkenal iaitu “Brahman Atman aikyam” artinya Tuhan dan Atma satu”.. Pengertian Tuhan dan atman satu itu dapat dipertegas lagi iaitu Atman dihati itulah Tuhan.. Mengetahui kebenaran ini para yogi berusaha menyatukan pikirannya pada Atma yang ada dihatinya.. Karena itu seseorang yang ingin memutuskan derita hidup yang sudah tiada solusinya lagi harus mencoba melakukan yoga seperti yang dilakukan oleh para yogi. Dengan melakukan yoga atau menyatukan pikiran pada Atma maka seseorang akan bisa merasakan kebahagiaan hidup seperti yang dinyatakan oleh ayat berikut: “sesungguhnya kebahagiaan tertinggi datang pada Yogi yang pikirannya tenteram, damai yang hawa nafsunya tiada lagi, tiada noda, bersatu dengan brahman( Bhagawadgita VI-27).. Bila seseorang berusaha menyatukan pikiran pada Atma yang dihati dengan cara meditasi itu pertanda seseorang tergolong seoranng yogi.. Disaat pikiran tenteram, tenang dan damai tiada bergolak, pikiran murni, hening disanalah pikiran bersatu denga brahman dan brahman yang dimaksud sesuai maha wakya Brahman Atman aikyam adalah Atma itu sendiri.. Seperti dinyatakan oleh sloka diatas kebahagiaan datang menghampiri seorang yogi yang pikirannya terlah bersatu dengan brahman.. Dalam hal ini yang perlu diketahui Atman itu merupakan sumber kebahagiaan tertinggi. Karena Atma sumber kebahagiaan tertinggi dalam hidup demi terputusnya dari penderitaan maka pikiran harus disatukan pada Atma yang merupakan brahman yang ada dalam hati setiap insani. Demi untuk memperoleh kebahagiaan dan membebaskan diri dari penderitaan maka ayat suci berikut memerintahkan kepada manusia lewat arjuna sebagai berikut: Apapun yang menyebabkan pikiran berubah-ubah, tidak tetap, mengembara kemana-mana, cobalah usahakan mengendalikan pikiran itu sendiri dibawah pengawasan Atman(Bhagawadgita VI-26) Penderitaan yang dialami manusia sesungguhnya karena beban keinginan dalam pikiran. Beban itu membuat pikiran berubah-ubah, suka mengembara kemana-mana menerawang terjebak oleh kekuatan maya. Pikiran yang selalu banyak pikir, larut dalam hayalan duniawi itu sesungguhnya sebagai sebab penderitaan. Menyadari kondisi pikiran ayat diatas menganjurkan kepada manusia untuk mengendalikan pikiran agar menyatu dengan Atma lewat bermeditasi. Ketika pikiran bersatu dengan Atma maka Atma akan bekerja mengawasi pikiran.. Dalam pengawasan Atma atau dalam pancaran cahaya Atma maka kegelapan dipikiran dan noda-noda dipikiran akan dilenyapkan oleh pancaran cahaya Atma.. Di dunia kesehatan modern ada terapi dengan sinar infra merah, sekiraya dalam beryoga sesungguhnya seseorang sedang melakukan terapi sinar suci Atma. Benih penyakit yang ada dipikiran, noda-noda yang ada dipikiran akan dibersihkan atau dinetralisir oleh pancaran cahaya Atma yang membuat kondisi pikiran jadi segar. Setelah pikiran segar disanalah seseorang bisa merasakan kebahagiaan dalam hidupnya dan terlepas dari penderitaan. III. CARA BERYOGA. Bab VI dari kitab suci bhagawadgita berjudul Dyana yoga.. Kata dyana tersebut berarti meditasi.. Arti dyana digabungkan dengan arti kata yoga dapatlah diketakui meditasi itu merupakan cara menyatukan pikiran dengan Atma.. Untuk menyatukan pikiran dengan Atma atau beryoga dalam Bhagawadkita seseorang dianjurkan beryoga ditempat terpencil seperti dinyatakan oleh Ayat berikut: “Hendaknya seorang yogi selalu berusaha untuk memusatkan pikiran ditempat terpecil sendirian, setelah menguasai pikiran dan raganya bebas dari nafsu keinginan dan kemilikan(BhagawadgitaVI-10).. Sesuai ayat diatas bagi orang yang berkeinginan menyatukan pikirannya/ beryoga mereka harus pergi ketempat terpencil sendirian. Ditempat itu mereka memusatkan pikiran pada Atmanya.. Menurut pakar yoga Swami siwanda ditempat terpencil, dihutan pikiran dengan mudah hening sehingga pikiran dengan mudah menyatu dengan Atma.. Saat pikiran telah terkendali dalam persatuan dengan Atma, maka disaat itu pikiran manusia bebas dari kendali nafsu, bebas dari kendali triguna dan bebas dari sifat keakuan atau kemilikan.. sering-sering menyatukan pikiran dengan Atma maka pikiran jadi terbebas dari kendali nafsu dan Ego.. Atma yang menjaga pikiran sehingga nafsu dan ego tidak terlalu mengendalikan pikiran.. Tetapi bagi wanita atau kaum yang lemah untuk mengikuti pernyataan ayat diatas tidak mungkinlah harus ketempat sepi , kegunung-gunung. Mereka dapat meditasi dikamar sendiri menyepi disanalah mereka bermeditasi tukmenyatukan pikiran pada Atma dengan cara memandang sebuah titik seperti dinyatakan oleh ayat berikut: Disana, dengan memusatkan pikiran kesatu titik, mengendalikan kemampuan pikiran dan kerja panca indra, duduk diatas tempat duduknya, melaksanakan yoga pada Atma guna menyucikan pikiran(Bhagawadgita VI-12).. Dalam bermeditasi tuk membuat pikiran menyatu atau terfokus pada Atma, pikirannya dipusatkan kesatu titik..Dalam prakteknya seseorang dapat membuat sebuah titik bulat sebesar kurang lebih 3 mm pada sebuah kertas.. Kemudian kertas yang berisi titik itu ditempelkan didinding berjarak kurang lebih satu meter dari tempat duduk meditasi. Saat memulai meditasi setelah duduk bersila demi memudahkan pikiran menyatu pandanglah titik itu selama lima sampai sepuluh menit. Sesudah itu pejamkan mata dan pusatkan perhatian disela alis dan biarkan perhatian selalu disela alis.. Dengan meditasi diawali memandang sebuah titik dan kemudian memusatkan perhatian disela alis akan memudahkan pikiran dan panca indra jadi diam atau jinak, dibandingkan langsung memejamkan mata dan memusatkan perhatian pada titik disela alis.. Kalau tidak makai sebuah titik seseorang bisa juga disaat malam hari dengan memandang nyala api dupa barang bebrapa menit sesudah itu baru memejamkan mata dan memusatkan perhatian disela alis. Titik kepanjangannya “tidak berkutik”. Meditasi dengan memusatkan pikiran disatu titik akan membantu pikiran jadi cepat tidak berkutik atau diam tak kemana-mana.. Ketika pikiran diam tidak berkutik maka disaat itu pikiran menyatu pada Atma. Ketika pikiran menyatu pada Atma maka seseorang telah berhasil dalam yoga seperti yang dinyatakan dalam ayat suci berikut: “Bila pikirannya yang telah terkendalikan hanya bersandar pada Atman saja, bebas dari segala keinginan akan obyek-obyek indra, maka ia dikatakan berhasil dalam yoga(Bhagawadgita VI-18). Jadi dengan berpedoman pada ayat suci diatas pikiran dikatakan berhasil dalam yoga atau bersatu dengan Atma manakala pikiran bersandar pada Atma. Pikiran yang berhasil bersandar pada Atma adalah pikiran yang diam tidak berkutik.. Memandang sebuah titik, lalu memusatkan perhatian disela alis dengan mata terpejam saat meditasi itulah cara untuk melakukan yoga iaitu menyatukan pikiran dengan Atma.. Bagi orang yang penuh derita sudah tidak ada solusi yang memuaskan cobalah lakukan yoga.. Melakukan yoga bisa ditempat sepi dipegunungan atau bisa buat kamar suci yang tertutup rapat dan disitulah seseorang dapat bermeditasi... Buat alas duduk yang tebal dari kasur atau dari spon dan alasi dengan kain bersih kemudian duduklah meditasi.. lalukan setiap pagi dan sore serta bisa malam hari antara jam 9 dan jam sepuluh.. Dengan cara itu mudah-mudahan derita yang sudah tak bisa diatasi bisa tersembuhkan. IV. PENTINGNYA MANTRA Secara umum mantra dikenal sebagai kata-kata suci yang biasa diucapkan dalam berkeyakinan. Selanjutnya kata Mantra bila dipecah dalam bahasa sanskerta menjadi suku kata man dan tra. Kata man itu menunjukkan manah yang artinya pikiran dan tra meununjukkan traiti yang artinya melindungi. Bila arti kata tersebut digabungkan menjadi “melindungi pikiran.. Dalam hal ini dapat diberi pengertian mantra adalah sebuah kata-kata suci yang diucapkan dalam beriman atau beryoga itu berguna untuk melindungi pikiran agar pikiran dengan mudah menyatu dengan Atma. Pikiran itu goyah, liar suka mengembara kemana-mana karenanya untuk melindungi pikiran agar tidak pergi kesana kemari pada saat beryoga, sekiranya mantra itu perlu diucapkan berulang-ulang.. Karena itu pada saat beryoga selain perhatian terpusat disela alis, sekiranya mantra perlu diucapkan berulang-ulang disepanjang waktu saat melakukan meditasi.. Dengan cara mengulang-ngulang mantra terus menerus saat meditasi memusatkan pikiran disela alis akan memmungkinkan pikiran jadi cepat hening, diam lalu pikiran cepat bersatu pada Atma.. Jadi dalam meditasi untuk pikiran manusia yang selalu liar bergolak, terpencar agar mudah terpusat saat meditasi haruslah dikurung dengan mantra yang diucapkan berulang-ulang.. Satu mantra yang diulang-ulang sebanyak mungkin dengan memakai japamala itulah yang disebut japa mantra. Tetapi sebelum memulai japa mantra dan memusatkan pikiran alangkah baiknya diawali dengan melantunkan doa pujaan atau lagu pujian lalu berjapa dan meditasi serta diakhiri dengan doa tuntunan dan kedamaian.. V.TAPABRATA.. Untuk menekuni kedyatmikan atau adaya upaya melakukan yoga menyatukan pikiran pada Atma, sesungguhnya tapabrata, yoga dan samadhi merupakan satu kesatuan.. Tapa secara sederhana dapat diartikan dengan melakukan puasa seperti saat ulat berkepompong. Brata sendiri artinya berpantang tidak makan atau tidak minum . Dalam berpuasa itu sudah otomatis seseorang berpantang tidak makan dan tidak minum . Karena itu maka taparata digabungkan menjadi satu baru yoga dan terakhir samadhi. Tapabrata itu merupakan suatu hal yang penting dalam melakukan yoga.. Tapa brata iaitu berpuasa dengan berpantang makan dan minum itu berguna untuk menghilangkan rasa malas, bosan dan meringankan berat badan.. Berpuasa itu untuk menghilangkan rasa kantuk pada saat berjapa dan meditasi.. Dengan dihilangkannya sifat malas dan rasa kantuk yang diakibatkan oleh sifat tamas(sifat gelap) akan memungkinkan pikiran lebih mudah menyatu pada Atma.. Bila tidak melakukan tapa brata maka sifat tamas akan mempengaruhi perasaan jadi malas berjapa danmeditasi atau mata dibuat ngantuk terus saat mau melakukan japa dan meditasi. Karena mata dibuat mengantuk akan membuat pikiran melantur tidak terarah sehingga pikiran tidak pernah bersatu pada Atma... karena itu tapa brata merupakan satu rangkaian dengan yoga dan samadhi tak boleh dipisahkan. Tapa brata dijaman modern gambarannya seperti orang yang tiap bulan ngetap oli motornya. Ngetap kepanjangannya “ngelakoni tapa brata” yang artinya melakukan tapa brata” iaitu puasa mengosongi perut seperti membuka oli motor dan mengosonginya agar oli kotornya keluar lalu diganti dengan oli baru. Oli kepanjangannya “ojo lali ingete” artinya jangan lupa ingat dalam hal ini ingat mantra berulang-ulang untuk mengisi energi suci yang membuat pikiran dan peralatan dalam dapat pelumas energi suci/rohani. Dengan tapa brata dan tambahan energi suci membuat gerakan fisik semakin lincah untuk beryoga dan berkarma. Samadi secara sederhana dapat dipanjangkan menjadi “bersama DIA” yang dapat dimaknai bila pikiran sudah menyatu pada Atma maka pikiran akan bersama-sama dengan Atma.. Pikiran bersama-sama dengan Atma itulah hasil dari melakukan yoga.. Pikiran bersama-sama Atma itu bagaikan seorang pria bisa bersatu menikah dengan seorang gadis yang dicintai.. seperti pria dan wanita yang merasa bahagia dalam pernikahannya, sekiranya demikian pula dalam kebersamaan pikiran dengan Atma itu yang membuat seseorang merasakan kebahagiaan terbebas dari duka.. Tetapi pikiran itu bagaikan seorang suami yang suka selingkuh.. Dalam hal ini pikiran itu suka selingkuh dengan obyek-obyek duniawi.. sudah memiliki sumber kebahagiaan sejati, pikiran masing kepingin menikmati kebahagiaan duniawi bersama kelima pelayannya iaitu panca indranya.. VI.ATMA PELITA ABADI. Hidup dalam penderitaan berkepanjangan, selalu dirundung masalah atau tanpa sadar hidup suka membikin masalah itu pertanda hidup dalam kegelapan...Hidup dalam kecurangan, tidak suka terus terang itu juga pertanda hidup dalam kegelapan.. Berkata sesuka hati tidak menuruti agama itu juga hidup dalam kendali sifat gelap. Sifat tamas yang mengurung pikiran yang membuat hidup dalam kegelapan.. Hidup dalam derita berkepanjangan itu merupakan akibat karma dalam kegelapan yang sudah berbuah.. Disaat kehidupan medapat buah karma yang membuat hidup dalm penderitaan atau duka lara disanalah manusia sangat berharap bebas dari penderitaaan.. Untuk membebaskan diri dari kegelapan tersebut, satu satunya manusia harus cari pelita.. Atma merupakan pelita yang dapat melenyapkan kegelapan hidup. Atma itu bagaikan lampu yang menyala terang ditempat yang tak berangin seperti dinyatakan oleh ayat berikut: “Seperti lampu ditempat tak berangin nyalanya tak mengerdip”, inilah perumpamakan yang digunakan bagi pikiran yang terkendali dari seorang yogi yang melatih konsentrasi pada Atma(Bhagawadgita VI-19). Cahaya Api Atma seperti cahaya api lampu yang tenang tak mengerdip pada sebuah tempat yang tidak berangin..Begitulah cahaya Api Atma akan nampak seperti cahaya api lampu pada pikiran yang tenang tidak bergerak sama sekali.. Bila pikiran goyang atau bergerak itu bagaikan tempat yang berangin yang membuat cahaya api Atma bagaikan api lampu mengerdip ditempat berangin.. Bila angin kencang maka api lampu jadi padam. Begitu pula bila pikiran bergerak kesana kemari tidak diam maka cahaya Api Atma tidak nampak.. Karena itu butuh ketenangan pikiran agar Cahaya Api Atma yang ada dalam diri nampak bersinar bagai api lampu. Meditasi merupakan upaya untuk menenangkan pikiran dan meditasi dengan pikiran yang difokuskan pada Atma semata itu itu merupakan meditasi jalan terang. Dengan pikiran yang suci bermeditasi pada Atma semata itu membuat pikiran yang menyatu pada Atma bagaikan sebuah lilin yang berisi nyala api.. Pikiran yang berisi api Atma itu membuat pikiran cemerlang..Pikiran yang demikian disebut telah memperoleh penerangan dan Atmalah pelita penerang abadi.. Pikiran yang terang karena telah bersatu pada Atma itu membuat pikiran seseorang jadi brilian, cerdas berpengetahuan yang langsung keluar dari Atma.. Atma yang terang bersinar itu sumber penerangan dan sumber pengetahuan sejati. Pancaran cahaya Atma itulah yang membebaskan diri dari kegelapan dan duka lara.. Karena itu bagi siapapun yang hidupnya selalu dalam derita, hidup dalam kesusahan carilah Atma agar ada titik terang dalam hidup dan agar tidak selamanya dalam kegelapan.. Lakukan latihan meditasi rutin tiap hari dan fokuskan pikiran pada Atma semata tidak pada yang lain.. Meditsi pada Atma merupakan meditasi jalan terang.. Sementara meditasi selain menuju Atma jika mental tak kuat akan memungkinkan seseorang semakin terpuruk dalam kegelapan. VII. AYAT-AYAT SUCI. 1. Atma itu sendirilah yang merupakan semua dewa, Alam semesta ada pada Atma; karena Atmalah yang menghasilkan hubungan dari semua makhluk dengan karma(Manawa DS XII-119) Penjelasan singkat : Atma sesungguhnya inti dari semua dewa.. berbagai wujud dewata sesungguhnya wujud dari Atma semata. Atma memiliki kemampuan mewujudkan diri dalam berbagai rupa dewata.. 2. Aku adalah Atma yang ada dalam hati semua makhluk, wahai Gudakesa, Akulah permulaan dan akhir dari makhluk semua(Bhagawadgita X-20) Penjelasannya: Sri Krisna yang dianggap sebagai perwujudan Tuhan, beliau sendiri menyatakan dirinya Adalah Atma yang ada dalam diri manusia.. Jadi Atma itu sendiri sebagai asal mula segala wujud dewata.. 3.Dia yang memuja AKU yang bersemayam dalam semua insan, dengan tujuan manunggal, yogi yang demikian dapat tinggal dalam diriKu, walau bagaimanapun cara hidupnya(Bhagawadgita VI-31) Penjelasan singkat: Dia yang memuja Aku yang bersemayam dalam semua insan sesuai ayat 20 bab X diatas, dimana kata Aku itu menunjukkan Atma.. Kalau Tuhan diwujudkan, maka manusia akan menyembah dengan menyakupkan tangan didepan wujud Tuhan. Karena sebagai Atma maka pikiran yang tertuju pada Atma itu merupakan cara menyembah secara mental. Cara menyembah dengan pikiran itu merupakan sebuah cara dengan tujuan pikiran manunggal pada Atma.. Pikiran seorang yogi yang menyatu dengan Atma itu yang memungkinkan bisa hidup bersatu dengan Atma atau hidup dengan dilandasi kesadaran yang datangnya dari Atma.. Seorang yogi atau seseorang yang ingin menyatukan pikiran pada Atma yang ada dihatinya ia bebas dalam menempuh cara hidup dalam beriman. Mereka tidak dibatasi aturan macam-macam dalam memuja Tuhan yang ada dalam dirinya. Hal ini ibarat seseorang bekerja dirumah sendiri maka mereka bebas mengatur pekerjaannya Kalau seseorang memuja Tuhan yang ada disebuah tepat suci atau ditempat tertentu maka mereka akan terkena aturan formal yang berlaku ditempat tersebut.. Tata cara berpakaian, adat istiadat harus mengikuti aturan formal yang berlaku didaerah tersebut.. Bila memuja Tuhan ada dalam diri soal cara bersembahyang, mau sebagai apa itu bebas sesuai aturan sendiri .. VIII.SINGA PIRANG.. Singa memiliki bulu berwarna pirang. Sebagai sosok singa sebagai raja para binatang ia bergerak bebas kesana kemari penuh percaya diri. Meyakini Tuhan dalam diri dengan tujuan pikiran menyatu pada Atma itu merupakan tingkat ajaran paling tinggi. Keyakinan pada Atma itu bagaikan singa diantara para binatang. Singa kepanjangannya “semata-mata ingat Atma” dan kata pirang kepanjangannya “pikiran terang”.. Jadi bila dalam beriman semata-mata ingat Atma atau pikiran menyatu pada Atma itu membuat pikiran terang. Bila pikiran terang dalam pancaran cahaya Atma itu membuat hidup bebas dari kegelapan.. Kuasa gelap akan menyingkir atau berpikir bila pikira terang dalam pancaran cahaya Atma.. Hal itu bagaikan sosok binatang lainnya akan berpikir seribu kali untuk melawan singa kecuali dengan cara merebutnya beramai-ramai... Tetapi tujuan menyatukan pikiran pada Atma intinya adalah untuk membuat pikiran jadi terang dan terbebas dari hidup yang kelam.. sebagai manusia yang berpegang norma meyakini Atma bukanlahuntuk menyakiti orang lain. IX YOGA ASANA.. Secara formal masyarakat mengenal kata yoga melalui berbagai kegiatan yoga secara fisik yang diselenggararakan oleh pelatih-pelatih yoga yang biasa ditayangkan di media televisi... Yoga-yoga yang berupa berbagai gerakan fisik tersebut sesungguhnya disebut dengan yoga asana. Asana berarti sikap tubuh.. Dalam kegiatan yang dilakukan dimedia televisi itu yogaitu menyangkut berbagai sikap tubuh.. Sikap-sikap tubuh itu sesungguhnya sama dengan senam yang berfungsi untuk membantu fisik agar lemas, lentur.. Fisik yang lemas ,lentur itu sangat membantu dalam pelaksanaan yoga atau dalam upaya penyatuan pikiran pada Atma.. Karena itu sehabis beryoga atau sebelum beryoga dengan cara bermeditasi dan berjapa baik sekali melakukan senam atau melakukan asana.. Tetapi manusia perlu sadar jangan terpaku pada asana semata. Sesuai arti kata Yoga hendaknya upaya penyatuan pikiran pada Atma yang lebih penting. . X. Praktek mantra dan puja.. Dalam upaya penyatuan pikiran pada Atma atau beryoga dengan cara meditasi, kiranya tidak bisa terlepas dari kegiatan puja dan japa.. Penulis biasa melakukan puja seperti susunan puja dan mantra sebagai berikut: 1. Mantra OM diucapkan 3x biasa juga 9x, 11x atau lebih. 2. Gayatri mantra 3x OM Bhur Bhuwah Swah Tat sawitur warenyam Bhargo dewasya dimahi, Dhiyo yonah pracodayat 3. Santi mantra 3x 4. Mantra guru satu kali Om Gurur Brahma, Gurur Wisnu, guru saksat param brahma, tasmahe sri guruwe namaha 5. Langsung japa gayatri dirangkaikan meditasi 6. Akhiri dengan mantra Santi 3x. 7. Doa tuntunan.. Asatoma sad gamaya, tamasoma jyotir gamaya, mrityotma amritaam gamaya, Loka samasta sukino bhawantu 3x. Akhiri mantra santi 3x(0m santhi3 om)... Hakekat Pujian kepada Tuhan.. Pujian kepada Tuhan dengan syair pujian berupa doa dan mantra hakekatnya hampir sama dengan seseorang pria memuji seorang gadis dengan sepucuk surat cinta.. Orang yang pintar bikin surat cinta akan membuat kata-kata cintanya sesuai kemampuannya. Sementara orang yang tidak bisa bikin sendiri akan menjiplak surat cinta dari orang yang pintar.. Begitu juga orang yang ahli dalam membuat syair pujian kepada Tuhan akan menyusun doa-doa pujian dengan caranya sendiri.. Bagi umat yang tidak bisa membikin syair pujaan sendiri mereka akan mengikuti tata cara mereka yang ahli lalu dijadikan tradisi dan jadi corak sebuah agamanya. Tidak demikian halnya bagi yang bisa menyusun kata-kata pujian kepada Tuhan. Baginya bebas membikin pujian .. mereka tidak mutlak mengikuti tata cara yang sudah ada. Mereka bisa merangkai kata-kata sendiri dalam memuja Tuhan. Pemahaman seperti ini jarang dimiliki oleh masyarakat awam dibidang agama.. Karena jika ada cara memuja yang lain sudah dianggap keluar dari agamanya. Tuhan tidak melarangnya tetapi masyarakat yang heboh.. Kata Pengantar. OM swastyastu Puji syukur senantiasa penulis panjatkan kehadapan Ide Sang Hyang Widhi Wasa karena atas kasihNya penulis diberi kesempatan menuliskan buku ini.. Buku yang kami tuliskan berjudul YOGA Akhiri penderitaan”. Isi dari buku yang kami tuliskan kami ambilkan dari ayat suci bhagawadgita yang penulis paparkan dalam buku ini.. Buku yang kami tuliskan itu berdasarkan pemahaman penulis yang serba terbatas, tetapi walau demikian penulis mencoba memberanikan diri menuliskannya. Karena itu diakhir kata penulis mohon maaf bila ada hal yang kurang berkenan dihati pembaca sekalian... Wanasari 31 Desember 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar