Rabu, 08 Januari 2020

CARA MERINGANKAN BEBAN FISIK DIHARI TUA AGAR HIDUP LEBIH SEHAT


PENDAHULUAN
Memasuki usia tua  atau memasuki usia 50 tahunan sekiranya hampir semua orang dalam kehidupan ini akan mengalami kondisi tenaga loyo-loyoan tak bertenaga, stamina melemah dan sakit sakitan.  Kalau sudah loyo, sakit-sakitan maka  seseorang akan merasakan fisiknya sebagai beban. Badannya berat dan loyo digerakkan sehingga tubuhnya benar-benar  terasa sebagai beban.
Sadar atau tidak bahwa fisik disaat sakit dan loyo-loyoan sebagai beban semata, sekiraya itu membuat semua orang  berusaha berobat kesana kemari dan melirik makanan kesehatan. Usaha itu dilakukan karena tidak tahan dengan  beban tubuh yang begitu berat digerakan dan kesakitan. Mereka kepingin sembuh dengan fisik ringan digerakkan seperti usia muda tapi apa daya usia tua  tidak mengijinkan seperti dulu lagi.
Fisik yang telah menjadi beban  karena stamina melemah,tenaga loyo dan sakit-sakitan setelah direnungi sekiranya itu pertanda mental manusia sudah bagaikan besi atau pisau yang sudah karatan. Karena mental sudah karatan menyebabkan hidup jadi sekarat. Penyebab utama  mental karatan karena pikiran manusia ibarat pisau dibiarkan tergeletak diatas  tanah atau tak pernah diasah.
Dalam hal ini mental yang karatan dikarenakan pikiran manusia  dibiarkan begitu saja sibuk memikirkan urusan duniawi sehingga pikiran pul memori duniawi tidak dibersihkan. Memori duniawi tersebut  yang menempel dipikiran bagai karat yang menempel dipisau yang membuat mental karatan sehingga hidup jadi sekarat dan tubuh terasa berat.
Untuk memulihkan kesehatan dan stamina agar  tubuh tidak terasa sebagai beban sekiranya  penting sekali membersihkan karat mental. Tapi sayang orang modern karena tidak tahu, mereka hanya berusaha berobat dan mencari makanan kesehatan tentu hasilnya kurang maksimal. Baiknya selain berobat dan mengkomsumsi makanan kesehatan  haruslah dibarengi membersihkan karat pada mentalnya. Dengan dibarengi pembersihan karat mental tentu hasilnya lebih optimal.

MEMBERSIHKAN  KARAT MENTAL
Karatan  sebuah kata yang bila dipanjangkan menjadi  1.kaku, keberatan dan 2. Kaku,berat sakit-sakitan.  Dari kepanjangan kata karatan tersebut diawal mula selagi fisik masih kuat, mental karatan menyebabkan watak jadi kaku dan keberatan. Bila karat mental sudah terlalu tebal akan menyebabkan fisik jadi kaku, terasa berat dan penyakitan.
Supaya akibat dari mental karatan berkurang, maka perlu pembersihan karat pada mental yang berupa memori yang menempel pada pikiran. Upaya pembersihan mental tersebut prosesnya sama seperti membersihkan karat pada pisau salah satunya dengan rajin mengasahnya pada batu asah.
Selain prosesnya sama, sekiranya pada proses mengasah ada nilai filsafat agama yang langsung bisa dijadikan petunjuk untuk membersihkan memori. Nilai filsafatnya sederhana sekali ada pada kepajagan kata asah, mengasah, kata pisau sebagai berikut:
1.       Asah. kata asah setiap hurupnya dipanjangkan menjadi “aktif sikir agar halus”
2.       Mengasah. Kata mengasah dipanjangkan menjadi “mengerjakan sikir agar halus”.
3.       pisau kepanjangannya “penting ingat selalu asal usul.pisau simbol pikiran yang berguna
4.       Batu asah simbol roh dihati setiap orang.
 Seseuai kepanjangan kata  asah  dan  mengasah diatas sekiranya cara membersihkan memori dipikiran  adalah seseorang harus aktif bersikir atau mengerjakan sikir agar halus pikirannya dan bersih. Hal ini seperti pisau karatan yang kasar setelah diasah menjadi halus, sekiranya demikian pula dengan rajin bersikir maka pikiran jadi halus dan karat  metalnya hilang.
Hilangnya karat pada mental atau pada pikiran  akan membuat pikiran,perasaan jadi ringan dan badanpun jadi ringan digerakkan.
Tetapi sesuai kepanjangan kata pisau sebagai simbol pikiran sekiranya agar hidup jadi lebih sehat bersemangat sekiranya seseorang penting ingat selalu pada asal usul hidup iaitu Roh didalam hati. Mengingat roh atau Atma yang ada dalam hati dengan berjapa atau berzikir itu langsung berguna untuk mengasah pikiran agar karatnya hilang dan pikiran jadi tajam  atau cerdas.
Tau Roh  atau Atma dihati yang berperan sebagai batu asah  yang merupakan asal usul hidupnya badan merupakan suatu keharusan. Dengan mengetahui Roh sebagai batu asah bagi pikiran maka  seseorang dalam berzikir harus ingat roh da baiknya didalam hati.
Berzikir dalam hati akanmembuat pikiran bagai pisau saat diasah menempel pada batu asah. Seperti pisau  saat diasah digesek-gesekkan, sekiranya  pada saat berzikir atau menyebut nama Tuhan berulang-ulang terjadi gesekan pikiran dengan Roh.
Dari  gesekan pikiran dengan roh dihati akan membuat karat mental iaitumemori akan  hilang sehingga pikiran jadi halus dan bersih. Dari kebersihan karat pikiran membuat efek dari karat mental pada tubuh jadi ikutan hilang. Karena hilang maka tubuh terasa jadi lebih ringan dan segar.
Karena itu sesuai  petunjuk megasah pisau yang berguna untuk membersihkan karat mental, sekiranya supaya hidup tidak cepat sekarat baiknya seseorang rajin berzikir ingat Roh dihati. Bila perlu  sebelum berkarat  atau selagi usia muda harus rajin berzikir. Nanti setelah karatan, usia tua baru berzikir tentu dibutuhkan waktu yang lama dan hasilnya tidak begitu memuaskan.
Kata orang lebih baik mencegah dari mengobati. Karena itu walau sibuk bekerja tetap rajin berzikir/ berjapa itu berguna mencegah pikiran jangan sampai karatan. Kalau sudah karatan tentu payah, lama proses pembersihannya dan perlu penyepuhan lagi mengikuti anjuran orang pandai. Dalam penyepuhan seseorang harus berani panas seperti pisau dimasukkan pada api disaat menyepuj. Sepuh kepanjangannya “sembahyang, puasanya harus”. Jadi supaya karat  cepat hilang saat sembahyang dan berzikir harus dibarengi puasa. Saat puasa api rohani akan menyala. nyala api tersebut yang membakar pikiran sehingga karat memori  bisa terlepas dari pikiran. Ya begitulah prosesnya lumayan berat kalau sudah berkarat. Karena itu bersikirlah, berjapalah selagi belum sekarat.

ISTILAH MENGASAH DALAM BAHASA BALI
Mengasah dalam bahasa Bali disebut Nyangih.  Batu asahnya disebut  Sangian dan pisau yang tajam disebut mangan . Dibalik nama-nama itu ada nilai filsafatnya dalam bahasa bali yang artinya sama dengan nilai filsafat mengasah pisau. Nilai filsafat dari kata=kata diatas adalah sebagai berikut:
1.       Nyangih kepanjangannya “nyak ngingetang sang Hyang atme” artinya mau ingat sang  Hyang Atme
2.       Sangian kepanjangannya “sang hyang atme” . Atma artinya roh dan kata sang hyang merupakan sebutan kehormatan seperti yang mulia. Potongan batu asah simbol roh yang sudah terbagi –bagi ada pada hati semua orang.
3.       Mangan kepanjangannya “ merase iingan” artinya merasa ringanan, mangan artinya tajam.
4.       Tiuk  nama pisau dalam bahasa bali yang tiap hurupnya dipanjangkan menjadi “terus ingetang, uleng kepungin” artinya terus diingat, fokus kejar’. Maksudnya terus berjapa atau bersikir ingat roh, pokuskan pikiran tuk mengejar  roh dihati.

Sesuai kepanjangan kata nyangih tersebut  untuk membersihkan karat pikiran agar akibatnya tidak menjadikan tubuh sebagai beban seseorang harus mau mengingat Sang hyang atma dihati  dengan cara berjapa mantra atau berzikir. Dengan bersikir maka pikiran akan bergesekan pada Atma dihati yang membuat  memori terhapus sehingga pikiran bersih.  Setelah bersih maka pikiran akan terasa ringan, plong dan fisikpun jadi terasa lebih ringan.
Akan tetapi karena pikiran sudah gelap terikat guna tamas atau kekuatan gelap kebanyakan orang tak mau berjapa mantra tuk bersihkan karat pikirannya. Bahkan jika diprintah malah menentang dan meremehkan. Akibatnya karena  tidak berjapa memori menumpuk membuat mental karatan.  Dari mental karatan  hidup jadi cepat karatan sehingga tubuh benar-benar dirasakan sebagai beban.Apalagi disaat kesakitan matinya susah  maka  fisik sunguh dirasakan sebagai beban.
Karena itu agar merasa ringan(mangan) harus “Nyak ngingetang Sang Hyang Atme “ dengan rajin-rajin berjapamantra  saat subuh, sore hari dan malam hari. Bila perlu kemanapun pergi ingat berjapa bagaikan orang nyabit rumput sambil bawa sangian.

                                  PEMBERSIHAN MENTAL BERSAMA
disebuah perkumpulan  ajaran spiritual yang bernapaskan  hinduisme ada  tatacara menjalani praktek spiritual dengan cara menyanyikan  lapal suci atau mantra dalam bentuk nama dewa-dewi. Nama dewa dan nama dewi berdasarkan filsafat weda merupakan sebuah lapal suci atau mantra suci. Demi agar umat bisa bersama-sama  membersihkan karat mental sekiranya nama dewa dewi atau nama Tuhan digubah dalam bentuk nyanyian  dengan irama lagu-lagu dijaman modern.
sambil diiringi  irama musik yang merdu membuat ada daya tarik dan kesemangatan untuk menyanyikan lagu lagu kerohanian. Tanpa di  modifikasi  dalam bentuk lagu-lagu modern  dan disertai  irama musik sungguh pekerjaan bersikir atau berjapa  seorang diri merupakan pekerjaan yang membosankan.
karena itu seorang guru kerohanian yang mengetahui sifat manusia yang umumnya pembosan memodifikasi praktek ajarankerohanian menjadi sebuah lagu modern yang disertai musik yang membuat manusia betah menjalaninya. sehingga  sambil bernyanyi dengan riang gembira ditambah tepukkan tangan membuat



Tidak ada komentar:

Posting Komentar