PENDAHULUAN
Memasuki usia
tua atau memasuki usia 50 tahunan sekiranya
hampir semua orang dalam kehidupan ini akan mengalami kondisi tenaga
loyo-loyoan tak bertenaga, stamina melemah dan sakit sakitan. Kalau sudah loyo, sakit-sakitan maka seseorang akan merasakan fisiknya sebagai
beban. Badannya berat dan loyo digerakkan sehingga tubuhnya benar-benar terasa sebagai beban.
Sadar atau
tidak bahwa fisik disaat sakit dan loyo-loyoan sebagai beban semata, sekiraya
itu membuat semua orang berusaha berobat
kesana kemari dan melirik makanan kesehatan. Usaha itu dilakukan karena tidak
tahan dengan beban tubuh yang begitu
berat digerakan dan kesakitan. Mereka kepingin sembuh dengan fisik ringan
digerakkan seperti usia muda tapi apa daya usia tua tidak mengijinkan seperti dulu lagi.
Fisik yang
telah menjadi beban karena stamina
melemah,tenaga loyo dan sakit-sakitan setelah direnungi sekiranya itu pertanda
mental manusia sudah bagaikan besi atau pisau yang sudah karatan. Karena mental
sudah karatan menyebabkan hidup jadi sekarat. Penyebab utama mental karatan karena pikiran manusia ibarat
pisau dibiarkan tergeletak diatas tanah
atau tak pernah diasah.
Dalam hal ini
mental yang karatan dikarenakan pikiran manusia
dibiarkan begitu saja sibuk memikirkan urusan duniawi sehingga pikiran
pul memori duniawi tidak dibersihkan. Memori duniawi tersebut yang menempel dipikiran bagai karat yang
menempel dipisau yang membuat mental karatan sehingga hidup jadi sekarat dan
tubuh terasa berat.
Untuk
memulihkan kesehatan dan stamina agar
tubuh tidak terasa sebagai beban sekiranya penting sekali membersihkan karat mental.
Tapi sayang orang modern karena tidak tahu, mereka hanya berusaha berobat dan
mencari makanan kesehatan tentu hasilnya kurang maksimal. Baiknya selain
berobat dan mengkomsumsi makanan kesehatan
haruslah dibarengi membersihkan karat pada mentalnya. Dengan dibarengi
pembersihan karat mental tentu hasilnya lebih optimal.
MEMBERSIHKAN KARAT
MENTAL
Karatan sebuah kata yang bila dipanjangkan
menjadi 1.kaku, keberatan dan 2.
Kaku,berat sakit-sakitan. Dari
kepanjangan kata karatan tersebut diawal mula selagi fisik masih kuat, mental
karatan menyebabkan watak jadi kaku dan keberatan. Bila karat mental sudah
terlalu tebal akan menyebabkan fisik jadi kaku, terasa berat dan penyakitan.
Supaya akibat
dari mental karatan berkurang, maka perlu pembersihan karat pada mental yang
berupa memori yang menempel pada pikiran. Upaya pembersihan mental tersebut
prosesnya sama seperti membersihkan karat pada pisau salah satunya dengan rajin
mengasahnya pada batu asah.
Selain
prosesnya sama, sekiranya pada proses mengasah ada nilai filsafat agama yang
langsung bisa dijadikan petunjuk untuk membersihkan memori. Nilai filsafatnya
sederhana sekali ada pada kepajagan kata asah, mengasah, kata pisau sebagai
berikut:
1. Asah.
kata asah setiap hurupnya dipanjangkan menjadi “aktif sikir agar halus”
2. Mengasah.
Kata mengasah dipanjangkan menjadi “mengerjakan sikir agar halus”.
3. pisau
kepanjangannya “penting ingat selalu asal usul.pisau simbol pikiran yang
berguna
4. Batu
asah simbol roh dihati setiap orang.
Seseuai kepanjangan kata asah
dan mengasah diatas sekiranya
cara membersihkan memori dipikiran adalah
seseorang harus aktif bersikir atau mengerjakan sikir agar halus pikirannya dan
bersih. Hal ini seperti pisau karatan yang kasar setelah diasah menjadi halus,
sekiranya demikian pula dengan rajin bersikir maka pikiran jadi halus dan
karat metalnya hilang.
Hilangnya
karat pada mental atau pada pikiran akan
membuat pikiran,perasaan jadi ringan dan badanpun jadi ringan digerakkan.
Tetapi sesuai
kepanjangan kata pisau sebagai simbol pikiran sekiranya agar hidup jadi lebih
sehat bersemangat sekiranya seseorang penting ingat selalu pada asal usul hidup
iaitu Roh didalam hati. Mengingat roh atau Atma yang ada dalam hati dengan
berjapa atau berzikir itu langsung berguna untuk mengasah pikiran agar karatnya
hilang dan pikiran jadi tajam atau
cerdas.
Tau Roh atau Atma dihati yang berperan sebagai batu
asah yang merupakan asal usul hidupnya
badan merupakan suatu keharusan. Dengan mengetahui Roh sebagai batu asah bagi
pikiran maka seseorang dalam berzikir
harus ingat roh da baiknya didalam hati.
Berzikir dalam
hati akanmembuat pikiran bagai pisau saat diasah menempel pada batu asah.
Seperti pisau saat diasah
digesek-gesekkan, sekiranya pada saat
berzikir atau menyebut nama Tuhan berulang-ulang terjadi gesekan pikiran dengan
Roh.
Dari gesekan pikiran dengan roh dihati akan
membuat karat mental iaitumemori akan
hilang sehingga pikiran jadi halus dan bersih. Dari kebersihan karat
pikiran membuat efek dari karat mental pada tubuh jadi ikutan hilang. Karena
hilang maka tubuh terasa jadi lebih ringan dan segar.
Karena itu
sesuai petunjuk megasah pisau yang
berguna untuk membersihkan karat mental, sekiranya supaya hidup tidak cepat
sekarat baiknya seseorang rajin berzikir ingat Roh dihati. Bila perlu sebelum berkarat atau selagi usia muda harus rajin berzikir.
Nanti setelah karatan, usia tua baru berzikir tentu dibutuhkan waktu yang lama
dan hasilnya tidak begitu memuaskan.
Kata orang
lebih baik mencegah dari mengobati. Karena itu walau sibuk bekerja tetap rajin
berzikir/ berjapa itu berguna mencegah pikiran jangan sampai karatan. Kalau
sudah karatan tentu payah, lama proses pembersihannya dan perlu penyepuhan lagi
mengikuti anjuran orang pandai. Dalam penyepuhan seseorang harus berani panas
seperti pisau dimasukkan pada api disaat menyepuj. Sepuh kepanjangannya
“sembahyang, puasanya harus”. Jadi supaya karat
cepat hilang saat sembahyang dan berzikir harus dibarengi puasa. Saat
puasa api rohani akan menyala. nyala api tersebut yang membakar pikiran
sehingga karat memori bisa terlepas dari
pikiran. Ya begitulah prosesnya lumayan berat kalau sudah berkarat. Karena itu
bersikirlah, berjapalah selagi belum sekarat.
ISTILAH MENGASAH DALAM BAHASA BALI
Mengasah dalam
bahasa Bali disebut Nyangih. Batu asahnya
disebut Sangian dan pisau yang tajam
disebut mangan . Dibalik nama-nama itu ada nilai filsafatnya dalam bahasa bali
yang artinya sama dengan nilai filsafat mengasah pisau. Nilai filsafat dari
kata=kata diatas adalah sebagai berikut:
1.
Nyangih kepanjangannya “nyak ngingetang sang
Hyang atme” artinya mau ingat sang Hyang
Atme
2.
Sangian kepanjangannya “sang hyang atme” . Atma
artinya roh dan kata sang hyang merupakan sebutan kehormatan seperti yang
mulia. Potongan batu asah simbol roh yang sudah terbagi –bagi ada pada hati
semua orang.
3.
Mangan kepanjangannya “ merase iingan” artinya
merasa ringanan, mangan artinya tajam.
4.
Tiuk nama
pisau dalam bahasa bali yang tiap hurupnya dipanjangkan menjadi “terus
ingetang, uleng kepungin” artinya terus diingat, fokus kejar’. Maksudnya terus
berjapa atau bersikir ingat roh, pokuskan pikiran tuk mengejar roh dihati.
Sesuai kepanjangan kata nyangih
tersebut untuk membersihkan karat
pikiran agar akibatnya tidak menjadikan tubuh sebagai beban seseorang harus mau
mengingat Sang hyang atma dihati dengan
cara berjapa mantra atau berzikir. Dengan bersikir maka pikiran akan bergesekan
pada Atma dihati yang membuat memori
terhapus sehingga pikiran bersih.
Setelah bersih maka pikiran akan terasa ringan, plong dan fisikpun jadi
terasa lebih ringan.
Akan tetapi karena pikiran sudah gelap
terikat guna tamas atau kekuatan gelap kebanyakan orang tak mau berjapa mantra
tuk bersihkan karat pikirannya. Bahkan jika diprintah malah menentang dan
meremehkan. Akibatnya karena tidak
berjapa memori menumpuk membuat mental karatan.
Dari mental karatan hidup jadi
cepat karatan sehingga tubuh benar-benar dirasakan sebagai beban.Apalagi disaat
kesakitan matinya susah maka fisik sunguh dirasakan sebagai beban.
Karena itu agar merasa ringan(mangan)
harus “Nyak ngingetang Sang Hyang Atme “ dengan rajin-rajin berjapamantra saat subuh, sore hari dan malam hari. Bila
perlu kemanapun pergi ingat berjapa bagaikan orang nyabit rumput sambil bawa
sangian.
PEMBERSIHAN MENTAL BERSAMA
disebuah perkumpulan ajaran spiritual yang bernapaskan hinduisme ada tatacara menjalani praktek spiritual dengan cara menyanyikan lapal suci atau mantra dalam bentuk nama dewa-dewi. Nama dewa dan nama dewi berdasarkan filsafat weda merupakan sebuah lapal suci atau mantra suci. Demi agar umat bisa bersama-sama membersihkan karat mental sekiranya nama dewa dewi atau nama Tuhan digubah dalam bentuk nyanyian dengan irama lagu-lagu dijaman modern.
sambil diiringi irama musik yang merdu membuat ada daya tarik dan kesemangatan untuk menyanyikan lagu lagu kerohanian. Tanpa di modifikasi dalam bentuk lagu-lagu modern dan disertai irama musik sungguh pekerjaan bersikir atau berjapa seorang diri merupakan pekerjaan yang membosankan.
karena itu seorang guru kerohanian yang mengetahui sifat manusia yang umumnya pembosan memodifikasi praktek ajarankerohanian menjadi sebuah lagu modern yang disertai musik yang membuat manusia betah menjalaninya. sehingga sambil bernyanyi dengan riang gembira ditambah tepukkan tangan membuat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar